Situs kumpulan pengertian dan contoh artikel

Pengertian Hipotesis, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya

Pengertian Hipotesis - Ketika melihat cuaca yang mendung dan gelap, Anda pastinya akan menduga bahwa akan terjadi hujan. Namun untuk membuktikan apakah dugaan Anda benar atau tidak, maka tentu saja harus menunggu apakah hujan akan benar-benar turun atau tidak. Nah, dugaan seperti inilah yang merupakan contoh hipotesis sederhana dalam kehiduan sehari hari-hari.

Dalam dunia pendidikan, kata hipotesis tentu saja sudah tidak asing lagi. Namun begitu, kami yakin tak sedikit yang paham akan pengertian hipotesis secara mendalam.

Pengertian Hipotesis

Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ‘hupo’ yang berarti sementara dan kata ‘thesis’ yang berarti pernyataan atau teori. Hipotesis dapat diartikan sebagai pernyataan yang bersifat sementara dan kebenarannya masih sangat lemah atau masih harus dipertanyakan. Dalam dunia riset, para ahli menafsirkan kata hipotesis berarti dugaan terhadap hubungan antara dua variable atau lebih.

Jadi hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara dari masalah yang masih berupa praduga karena masih harus dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Atau secara lebih sederhana hipotesis diartikan sebagai pendapat yang kebenarannya masih diragukan. Untuk memastikan kebenaran tersebut, maka harus diuji atau dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya.

Pengertian Hipotesis Menurut Para Ahli

Para ahli juga menyumbangkan pendapat mereka mengenai pengertian hipotesis, diantaranya adalah:

1. Prof. Dr. S. Nasution (2000)
Menurutnya Hipotesis merupakan dugaan tentang apa yang sedang kita amati dalam upaya untuk memahaminya.

2. Zikmund (1997:112)
Hipotesis merupakan proposisi atau dugaan yang belum terbukti tentatif menjelaskan fakta atau fenomena dan kemungkinan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.

3. Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137)
Hipotesis merupakan pernyataan atau anggapan atau tuduhan sementara tentang masalah penelitian yang kebenarannya dipertanyakan atau masih diragukan sehingga perlu diuji secara empiris.

4. Mundilarso
Hipotesis merupakan pernyataan yang tingkat kebenarannya masih lemah dan masih harus diuji lagi dengan menggunakan teknik atau cara tertentu.
Melihat definis yang diberikan oleh para ahli tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis merupakan jawaban ataupun dugaan sementara yang kebenarannya masih harus diuji lagi.
Hipotesis biasanya dikenal sebagai istilah ilmiah yang sering digunakan dalam konteks kegiatan-kegiatan ilmiah. Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari praktek tentang hipotesis ini sebenarnya juga sangat sering dilakukan.

Contoh:
Ketika menonton sebuah film atau sinetron, Anda menebak atau menduga-duga akhir dari jalan cerita film atau sinetron tersebut. Misalnya Anda menduga bahwa tokoh A akan mati atau tokoh B pada akhirnya akan menikah dengan tokoh C. Dugaan ini muncul setelah Anda menyaksikan alur cerita sehingga Anda melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Nah, dugaan inilah yang disebut sebagai hipotesis. Untuk membuktikan dugaan atau hipotesis tersebut benar atau tidak, maka Anda tentu saja harus menyaksikan film atau sinetron tersebut sampai selesai.

Jenis-jenis Hipotesis dan Contohnya

Setelah memahami pengertian hipotesis, maka sudah seharusnya pula Anda memahami juga jenis-jenis serta contoh dari hipotesis tersebut. Setidaknya ada 3 jenis hipotesis, yaitu:

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif secara sederhana dapat diartikan sebaga jawaban atau dugaan sementara dari masalah deskriptif yang berhubungan dengan variable mandiri/tunggal.

Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah Mie yang digunakan di warung X mengandung formalin atau tidak. Maka peneliti tersebut membuat rumusan masalah seperti ini:

“Apakah mie yang digunakan di warung X mengandung formalin?”
Penelitian ini menggunakan variable tunggal, yaitu mie di warung X. Maka jenis hipotesis yang digunakan peneliti adalah hipotesis deskriptif. Dalam penelitian ini ada dua pilihan hipotesis yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan teori yang digunakan. Adapun hipotesisnya seperti ini:

Ho    : Mie yang digunakan di warung X mengandung formalin
Atau
H1    : Mie yang digunakan di warung X tidak mengandung formalin

2. Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif secara sederhana dapat diartikan sebagai dugaan atau jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan koparasi atau perbandingan antara dua variable dalam penelitian.

Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui sikap loyal antara pendukung klub sepakbola Persib Bandung (Bobotoh) jika dibandingkan dengan sikap loyal penukung Persija Jakarta (Jak Mania). Apakah kedua pendukung memiliki tingkat loyalitas yang sama atau beda. Maka peneliti membuat rumusan seperti:

“Apakah Bobotoh dan Jak Mania memiliki tingkat loyalitas yang sama?”
Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah variable jamak. Variable pertama adalah loyalitas Bobotoh dan variable kedua adalah loyalitas Jak Mania. Hipotesis komparatif digunakan pada penelitian ini karena masalah penelitian mempertanyakan perbandingan antara dua variable. Hipotesis dibuat sesuai dengan dasar teori yang digunakan, adapun hipotesisnya adalah:

Ho    : Bobotoh memiliki tingkat loyalitas yang sama dengan Jak Mania
Atau
H1    : Bobotoh memiliki tingkat loyalitas yang tidak sama (berbeda) dengan Jak Mania

3. Hipotesis Asosiatif

Hipotesis asosiatif diartikan sebagai jawaban atau dugaan sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan hubungan (asosiasi) antara dua variable dalam penelitian.

Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah sinteron berjudul “Roman Picisan” memengaruhi gaya remaja dalam bergaul (pacaran). Maka peneliti membuat rumusan masalah seperti:

“Apakah sinetron berjudul “Roman Picisan” memengaruhi gaya remaja dalam bergau (berpacaran)?”
Variable dalam peneltian ini adalah variabel jamak. Variabel pertama sinetron berjudul “Roman Picisan” dan variabel kedua adalah gaya bergaul (pacaran) remaja. Hipotesis yang digunakan adalah hipotesis asosiatif karena penelitian mempertanyakan perihal hubungan timbal balik antara kedua variable. Adapun hipotesis yang dapat dibuat sesusi dengan teori yang digunakan, yaitu:

Ho    : Sinetron berjudul “Roman Picisan” memengaruhi gaya bergaul (berpacaran) remaja
Atau
H1    : Sinetron berjudul “Roman Picisan” tidak memengaruhi gaya bergaul (berpacaran) remaja

Ciri-ciri Hipotesis yang Baik

Setiap orang tentu saja dapat membuat sebuah hipotesis, baik hipotesis untuk penelitian ilmiah maupun hipotesis untuk hal-hal yag sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun untuk membuat sebuah hipotesis yang bagus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Untuk mengetahui apakah sebuah hipotesis bagus atau tidak, setidaknya ada 6 ciri-cirinya, yakni:

1. Menyatakan sebuah hubungan
2. Sesuai dengan fakta yang ada
3. Berhubungan dengan ilmu dan sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan tersebut
4. Dapat diuji kebenarannya
5. Harus sesederhana mungkin
6. Harus dapat menerangkan fakta

Oleh Karena itu, untuk membuat sebuah hipotesis yang baik seorang peneliiti harus memperhatikan dan mempertimbangkan fakta-fakta yang relevan, masuk akal serta tidak bertentangan dengan hukum alam. Disamping itu, hipotesis juga harus dapat diuji untuk langkah verifikasi dalam penelitian.
Demikianlah diatas sedikit informasi mengenai pengertian hipotesis, jenis dan contoh-contohnya. Semoga informasi ini bermanfaat.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Hipotesis, Ciri-Ciri, Jenis dan Contohnya