Unsur Kebahasaan pada Teks Prosedur Kompleks

Unsur Kebahasaan pada Teks Prosedur Kompleks

Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi hal penting yang harus diperhatikan saat Anda berkomunikasi, baik itu komunikasi secara lisan maupun tulis. Begitu pula dalam penyusunan teks prosedur kompleks. Seperti yang kita ketahui, salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa komunikasi. Bahasa Indonesia mampu menyatukan beragam suku yang ada di Indonesia dalam satu naungan bahasa sehingga mereka dapat berkomunikasi secara lancar, tanpa terkendala.

Penggunaan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi akan menjadikan informasi yang disampaikan mudah diterima oleh lawan bicara kita. Agar dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, Anda harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang unsur-unsur kebahasaan pada jenis-jenis teks. Setiap teks umumnya memiliki unsur kebahasaan yang berbeda. Hal itu dapat menjadi ciri khusus suatu teks. Adapun unsur kebahasaan yang perlu dipahami saat menyusun teks prosedur kompleks, sebagai berikut.

1. Penggunaan Kalimat Perintah

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan intonasi suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, serta diakhiri dengan intonasi akhir. Sementara dalam wujud tulisan berhuruf Latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P).

Berdasarkan fungsinya, kalimat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.
a. Kalimat perintah atau kalimat imperatif, yaitu kalimat yang berisi permintaan/menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Kalimat perintah berfungsi untuk meminta atau melarang seseorang melakukan sesuatu.
Contoh:
Tolong matikan keran yang sudah penuh itu!
Jangan merokok di ruangan ini!
Jangan menginjak lantai yang baru saja dipel!

b. Kalimat pernyataan atau kalimat deklaratif, yaitu kalimat yang sudah dapat ditentukan nilai kebenarannya. Kalimat deklaratif berfungsi untuk menginformasikan atau memberitahukan mengenai suatu hal.
Contoh:
Matahari terbit dari sebelah timur.
Dua termasuk bilangan genap.
Tokyo merupakan ibu kota negara Jepang.

c. Kalimat pertanyaan atau kalimat interogatif, yaitu kalimat yang isinya menanyakan sesuatu kepada seseorang. Kalimat tanya berfungsi untuk meminta informasi mengenai suatu hal.
Contoh:
Kapankah nelayan pergi melaut?
Apa yang dimaksud adaptasi?
Mengapa air laut berwana biru?

2. Penggunaan Konjungsi

Salah satu ciri khas prosedur kompleks adalah jumlah langkah dalam melakukan suatu kegiatan. Umumnya, langkah-langkah yang terdapat dalam teks prosedur kompleks terkesan rumit. Antara langkah yang satu dan langkah yang lain harus dilakukan secara urut. Ada dua hal yang menyebabkan teks prosedur kompleks terkesan rumit. Berikut di antaranya:
a.    langkah-langkah dalam prosedur kompleks berjenjang dengan setiap langkahnya;
b.    adanya syarat-syarat atau pilihan-pilihan pada sublangkah dalam prosedur kompleks.

Dalam prosedur kompleks, syarat-syarat dan pilihan-pilihan yang terdapat dalam setiap sublangkah biasanya diungkapkan dengan menggunakan konjungsi. Konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat. Konjungsi berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat. Konjungsi ada beberapa macam. Berikut macam-macam konjungsi.

a.    Konjungsi penjumlahan: dan, serta, dan dengan.
b.    Konjungsi pemilihan: atau.
c.    Konjungsi pertentangan: tetapi, namun, sedangkan, dan sebaliknya.
d.    Konjungsi pembetulan: melainkan, hanya.
e.    Konjungsi penegasan: bahkan, apalagi, lagipula, hanya, itupun, begitu juga, dan demikian pula.
f.    Konjungsi pembatasan: kecuali.
g.    Konjungsi pengurutan: sesudah, sebelum, lalu, mula-mula, kemudian, selanjutnya, dan setelah itu.
h.    Konjungsi penyamaan: adalah, ialah, yaitu, yakni.
i.    Konjungsi penjelasan: bahwa.
j.    Konjungsi penyimpulan: maka, maka itu, jadi, karena itu, oleh karena itu, sebab itu, oleh sebab itu, dengan demikian, dan dengan begitu.
k.    Konjungsi penyebaban: sebab, karena, disebabkan oleh, dan dikarenakan oleh.
l.    Konjungsi persyaratan: jika, kalau, bila, apabila, asalkan.
m.    Konjungsi tujuan: agar, supaya, guna, dan untuk.
n.    Konjungsi penyungguhan: meskipun (meski), biarpun (biar), walaupun (walau), sekalipun, sungguhpun, kendatipun, dan kalaupun.
o.    Konjungsi kesewaktuan: ketika, waktu, sewaktu, saat, tatkala, selagi, sebelum, sesudah, setelah, sejak, semenjak, dan sementara.
p.    Konjungsi perbandingan: seperti, sebagai, laksana, dan seumpama.

Konjungsi yang digunakan pada teks prosedur kompleks adalah konjungsi persyaratan. Adapun konjungsi yang sering digunakan, yaitu jika, apabila, dan seandainya. Penggunaan konjungsi syarat menyebabkan kekompleksitasan pada suatu prosedur. Hal ini menjadikan suatu prosedur harus dipahami dengan saksama karena ada beberapa persyaratan yang melekat dalam langkah-langkah kerjanya. Apabila sebuah syarat tidak terpenuhi, maka langkah-langkah berikutnya tidak bisa dilaksanakan. Itu artinya, tujuan yang hendak dicapai gagal.

3. Penggunaan Partisipan Manusla secara Umum

Partisipan manusia digunakan dalam teks prosedur kompleks meliputi pronomina atau kata ganti yang digunakan untuk penyebutan berikutnya, seperti (kata ganti orang ketiga tunggal) yang mengacu pada subjek (orang).
Contoh:
Jika pengendara melakukan pelanggaran, tentu pihak yang berwajib menilangnya.

4.    Penggunaan Verba Material dan Verba Tingkah Laku

Verba material dan verba tingkah laku termasuk dalam golongan verba. Verba adalah kelas.kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Verba disebutjuga dengan kata kerja. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat.

Verba dibedakan menjadi beberapa macam, dua di antaranya verba material dan verba tingkah laku.
1) Verba material adalah verba yang mengacu pada tindakan fisik, misalnya memukul, menendang, dan menampar.
Contoh:
Pemain bola itu menendang bola dengan sangat keras hingga masuk ke gawang lawan.
Perampok itu menampar wajah korbannya agar tidak berteriak-teriak.
Pak Rahman memukul meja dengan sangat keras untuk menenangkan kegaduhan di kelas.

2) Verba tingkah laku adalah verba yang mengacu pada sikap yang dinyatakan dengan ungkapan verbal (bukan sikap mental yang tampak), seperti melihat, menyaksikan, memandangi, dan menatap.
Contoh:
Rian memandangi punggung ayahnya yang sedang mengangkut pasir.
Anton menyaksikan pertunjukan sepak bola di Gelora Bung Karno.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top