Perbedaan Konflik Dengan Kekerasan

Perbedaan Konflik Dengan Kekerasan

1. Teori-Teori Kekerasan

Istilah kekerasan berasal dari bahasa Latin violentia, yang berarti keganasan, kebengisan, kedahsyatan, kegarangan, aniaya, dan perkosaan. Tindak kekerasan, menunjuk pada tindakan yang dapat merugikan orang lain. Pada dasarnya kekerasan diartikan sebagai perilaku dengan sengaja maupun tidak sengaja (verbal maupun nonverbal) yang ditujukan untuk mencederai atau merusak orang lain, baik berupa serangan fisik maupun nonfisik. Berikut ini beberapa teori yang mengupas tetang kekerasan sebagai berikut.

a.    Teori Faktor Individual
Menurut teori ini, perilaku kekerasan yang dilakukan oleh individu adalah agresivitas yang dilakukan oleh individu secara sendirian, baik secara spontan (tidak sengaja) maupun direncanakan dan perilaku kekerasan yang dilakukan bersama orang lain. Faktor penyebab dari perilaku kekerasan ini, selain faktor-faktor pribadi seperti kelainan jiwa (psikopat, psikoneurosis, frustasi yang kronis) dan pengaruh obat bius, juga disebabkan oleh faktor yang bersifat sosial, seperti konflik rumah tangga, faktor teritorial, faktor budaya, dan faktor media massa.

b.    Teori Fektor Kelompok
Identitas kelompok yang sering dijadikan alasan pemicu kekerasan adalah identitas rasial dan etnik. Kekerasan terjadi jika terjadi deprivasi relatif. Semakin besar kesenjangan antara keduanya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya perilaku agresif (kekerasan).

c.    Teori Dinamika Kelompok
1)    Teori Deprivasi Relatif
Negara yang mengalami pertumbuhan yang terlalu cepat mengakibatkan rakyatnya harus menghadapi perkembangan perekonomian masyarakat yang jauh lebih maju daripada perkembangan ekonomi dirinya sendiri. Terjadilah deprivasi relatif yang dapat menjadi awal terjadinya pergolakan sosial, huru-hara atau bahkan revolusi.
2)    Teori Kerusuhan Massa
N. J. Smelser mengemukakan tahapan-tahapan terjadinya kekerasan massa sebagai berikut.
a)    Situasi sosial yang memungkinkan timbulnya kerusuhan akibat struktur sosial tertentu, seperti tidak adanya sistem tanggung jawab yang jelas dalam masyarakat, tidak adanya saluran untuk mengungkapkan kejengkelan-kejengkelan dan sarana untuk berkomunikasi antarmereka yang jengkel itu.
b)    Kejengkelan atau tekanan sosial, yaitu kondisi karena sejumlah besar anggota masyarakat merasa bahwa banyak nilai dan norma yang sudah dilanggar.
c)    Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu, contohnya pemerintah, kelompok ras, atau kelompok agama tertentu.
d)    Mobilisasi massa untuk bereaksi, yaitu adanya tindakan nyata dari massa dan mengorganisasikan diri mereka untuk bertindak.
e)    Kontrol sosial, yaitu kemampuan aparat keamanan dan petugas untuk mengendalikan situasi dan menghambat kerusuhan.

2. Perbedaan Konflik dengan Kekerasan

Konflik dalam kehidupan masyarakat merupakan fenomena yang sangat alamiah. Hanya saja yang menjadi permasalahan apakah konflik tersebut menimbulkan kekerasan atau tidak. Kekerasan diindikasikan sebagai perwujudan dari suatu konflik yang tidak terlembaga, sementara konflik yang terlembaga dengan baik dapat diselesaikan dengan cara-cara damai. Kekerasan sosial lebih mengarah pada bentuk fisik atau wujud nyata dari aksi yang dilakukan oleh sekelompok orang atau massa pada suatu waktu dan tempat tertentu, sedangkan konflik sosial lebih mengacu pada permasalahan yang lebih mendasar dari munculnya suatu aksi kekerasan sosial. Untuk lebih jelasnya perbedaan konflik dan kekerasan pada tabel berikut.




Konflik

Kekerasan
1.
Proses terjadinya konflik diketahui oleh kedua belah pihak yang bertikai.
1.
Proses terjadinya terkadang tidak diketahui oleh pihak yang lemah.
2.
Aktivitas yang dilakukan tidak menim bulkan reaksi yang berarti.
2.
Aktivitas yang dilakukan menimbulkan reaksi keras, bahkan benturan fisik.
3.
Tidak berniat menjatuhkan lawan.
3.
Ada niat mencelakakan pihak lain.
4.
Dapat memotivasi untuk meraih prestasi.

4.
Karena kesalahpahaman kedua belah pihak.
5.
Bukan merupakan pelanggaran hukum semata-mata.
5.
Merupakan bentuk pelanggaran hu­kum.
6.
Cara penyelesaiannya dapat dilakukan dengan akomodasi dan peradilan.
6.
Cara penyelesaiannya harus dilakukan melalui peradilan.
7.
Terjadi dalam waktu yang relatif pan­jang.
7.
Terjadi dalam waktu yang relatif sing­kat.
8.
Dilakukan dengan langkah-langkah nyata untuk mencapai tujuan.
8.
Di lakukan dengan penuh prasangka sehingga merugikan pihak lain


Di samping perbedaan-perbedaan di atas, konflik sosial dan kekerasan memiliki beberapa sisi persamaan sebagai berikut.
a.    Keduanya terdapat unsur benturan fisik yang dapat mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, ataupun kerusakan harta benda.
b.    Konflik dan kekerasan merupakan suatu bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif yang mengarah terjadinya disintegrasi di dalam masyarakat.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top