Pengertian dan Macam Historiografi di Indonesia

Pengertian dan Macam Historiografi di Indonesia

Kehidupan manusia akan selalu mengalami perkembangan. Pertama kali manusia ada yakni.sejak manusia purba yang masih primitif sampai manusia masa kini yang sudah modem akan selalu mengalami perkembangan. Perkembangan yang terjadi pada manusia bukan hanya dalam bentuk fisiknya saja namun juga dalam hal pikiran atau pemahaman. Oleh karena itu, penulisan sejarah juga akan selalu mengalami perkembangan sejajar lurus dengan perkembangan pemikiran manusia. Kita sebagai makhluk Tuhan, harus pandai bersyukur karena kita diberikan kenikmatan berupa waktu.

Di Indonesia sendiri, historiografi sejarah Indonesia sudah mengalami tiga tahapan, yakni tahap penulisan sejarah secara tradisional, tahap penulisan sejarah secara kolonial, dan tahap penulisan sejarah secara modern. Pada setiap tahapan dalam penulisan sejarah Indonesia, dibarengi dengan cara berpikir manusia dan pemegang kekuasaan di Indonesia sendiri.

1. Historiografi Fase Tradisional

Historiogrfi adalah karya sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dibuat oleh para pujangga-pujangga kerajaan pada masa itu. Adapun ciri-ciri dari historiografi tradisional, sebagai berikut.

a.    Istana sentries atau raja sentris
Penulisan sejarah hanya terpusat pada raja, punggawa raja, patih, dan atau keluarga kerajaan. Sedangkan rakyat yang berada dalam kekuasaannya tidak digambarkan keadaannya.

b.    Relegio-magis
Penulisan sejarah yang bersifat relegio-magis menggambarkan tentang upacara keagamaan yang dilakukan oleh keluarga raja dalam mentaati perintah agama yang dianut oleh kalangan kerajaan. Hal itu dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan yang berupa benda seperti punden berundak, yupa, atau prasasti-prasasti.

c.    Kultus dewa raja (raja adalah manusia setengah dewa)
Raja dianggap sebagai titisan dewa yang harus dipatuhi dan ditaati oleh rakyatnya. Bahkan, seringkali raja atau kalangan kerajaan digambarkan mempunyai kesaktian yang tiada tandingannya. Pengkultusan terhadap raja sampai sekarang ini masih diterapkan oleh sebagian masyarakat.

d.    Subyektif yang sangat tinggi
Pujangga-pujangga yang menulis sejarah tradisional tidak akan luput dari tekanan dan empati terhadap penguasa di masanya. Sehingga penulisannya hanya menganggap bahwa penguasa merupakan orang yang paling baik.

e.    Kurang kronologis
Karena hanya membahas tentang raja dan kalangan kerajaan, penulisan sejarah hanya menulis peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh kalangan kerajaan. Hal itu menyebabkan, sebab-sebab peristiwa itu terjadi terabaikan.

f.    Berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan raja
Raja digambarkan sebagai manusia setengah dewa yang mampu membawa kemakmuran kepada rakyatnya sehingga rakyat akan senantiasa mendukung semua kehendak raja.

Pada awalnya, penulisan sejarah pada masa ini bukan untuk merekam suatu peristiwa sejarah, melainkan hanya untuk mengekspresikan kebudayaan seperti tempat upacara, agama yang dianut. Pada masa ini, penulisan sejarah ditulis bukan dikertas melainkan ditulis di atas batu, daun-daun, keramik, dan logam. Dalam historiografi tradisional, terjalin erat unsur-unsur sastra sebagai karya yang imajinatif dan mitologi. Contoh dari historiografi tradisional adalah babad, silsilah, tambo, dan hikayat.

Historiografi tradisional memiliki arti dan fungsinya sendiri. Pertama, dengan corak sejarah tradisional yang bersifat istana sentries maka ada upaya untuk menunjukkan kesinambungan yang kronologis dan memberikan legitimasi yang kuat terhadap penguasa, sebagai contoh didalam kitab Pararaton, Ken Arok dituliskan sebagai titisan dewa Wisnu sedangkan anaknya yang bernama Ken Endok dituliskan sebagai titisan dewa Brahma. Kedua, berbagai legenda dan mitos yang terkait dengan tokoh-tokoh sejarah lokal yang bertujuan untuk meningkatkan solidaritas dan integrasi di bawah kekuasaan pusat. Ketika proses penyatuan telah berhasil dilakukan, maka kekuasaan pusat membutuhkan untuk mengukuhkannya. Ketiga, penyusunan sejarah tradisional juga dimaksudkan untuk membuat simbol Identitas baru. Bagi rakyat di daerah, menjadi bagian dari sebuah kerajaan berarti berbagi identitas dan gengsi baru. Bagi rakyat yang datang ke ibu kota merupakan sesuatu yang luar biasa. Kharisma seorang raja, seperti yang dilukiskan dalam babad tanah Jawi, dipercaya karena adanya pulung. Dengan memiliki kharisma itu, panembahan Senopati berhasil menakklukkan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul sehingga mampu mengamankan kekuasaannya di sepanjang pantai selatan Jawa, tempat sang ratu berada sebagai penguasa dengan berbagai terornya.

2. Historiografi Fase Kolonial

Historiografi kolonial adalah historiografi Indonesia yang ditulis pada masa pemerintahan kolonial. Penulis sejarah pada masa ini adalah para peneliti dari pihak kolonial. Oleh sebab itu, penulisan sejarah pada masa ini mempunyai ciri-ciri sebagal berikut.

a.    Sudat pandang Eropasentris atau Nerlandosentris, yang menganggap bahwa kebudayaan barat yang paling maju.
b.    Berorientasi pada fakta.
c.    Periodisasi dan uraiannya sudah kronologis.

Dengan demikian, penulisan sejarah pada masa ini hanya bertujuan untuk dapat melanggengkan kekuasaan penjajahan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan penulis hanya memandang dari sudut pandang pemerintahan bukan dari sudut pandang orang pribumi. Hal sebaliknya bagi bangsa Indonesia, dapat berperan dalam membangkitkan perasaan nasionalisme untuk melawan penjajah. Hal itu memberikan corak tersendiri dalam penulisan sejarah Indonesia masa pergerakan. Tidak dapat disangkal bahwa historiografi kolonial turut memperkuat proses historiografi Indonesia. Historiografi kolonial menonjolkan peranan bangsa Belanda dan memberikan tekanan pada aspek politik dan ekonomi. Hal ini merupakan perkembangan logis dari situasi kolonial, ketika penulisan sejarah bertujuan utama mewujudkan sejarah dari golongan yang berkuasa beserta lembaga-lembaganya.

Historiografi pada masa kolonial tidak boleh diabaikan sama sekali. Tidak dipungkiri bahwa historiografi pada masa kolonial membantu mengembangkan historiografi Indonesia lokal. Hal itu dapat dilihat pada masa awal pergerakan Indonesia tahun 1900. Banyak para pemuda Indonesia yang mengembangkan cara penulisan sejarah Indonesia sebagai alat propaganda untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

Penulisan sejarah kolonial, tentunya tidak lepas dari kepentingan penguasa kolonial. Kepentingan itu mewarnai interpretasi mereka terhadap suatu peristiwa sejarah yang tentunya berbeda dengan penafsiran dari penulisan sejarah nasional Indonesia. Sebagai contoh : perlawanan pangeran Diponegoro. Dalam pandangan pemerintahan, kolonial dianggap sebagai tindakan ekstrimis yang mengganggu jalannya roda pemerintahan. Di sisi lain, bagi penulis sejarah nasional perlawanan tersebut dianggap sebagai perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan cinta tanah air. Jika dalam sejarah Belanda sentris menonjolkan peran VOC sebagai (pemersatu) dalam menuliskan sejarah-sejarah Hindia Belanda (Indonesia), dalam pandangan Indonesia sentries hal itu berbeda. Kehadiran bangsa barat pada umumnya, Belanda pada khususnya, sengaja atau tidak sengaja mendorong ke arah integrasi. Perlawanan terhadap penetrasi dan kekuasaan bangsa barat, membantu pembentukan wilayah kesatuan yang kemudian disebut dengan Indonesia. Demikian halnya pandangan bangsa Belanda yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 melalui penyerahan kedaulatan sebagai kelanjutan dari Konferensi Meja Bundar, bangsa Indonesia mangakui bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan perjuangannya sendiri kemudian diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

3. Historiografi Fase Modern

Historiografi modern ini dimulai sejak tahun 1970-an, saat diadakan seminar sejarah nasional kedua. Pada saat itu, Sartono Kartodirdjo melakukan disertasi tentang karyanya yang berjudul (pemberontakan Petani Banten tahun 1888) di mana sudut pandang yang dipakai dari sudut pandang Indonesia sentris dan membahas tentang masalah sosial untuk pertama kalinya. Sejak seminar itu, banyak sejarawan Indonesia mulai mengunakan penulisan buku sejarah Indonesia. Buku standar itu bukan hanya akan membawa ketegasan yang Indonesia sentris tetapi juga membawa kemajuan yang dicapai dalam Seminar Sejarah Indonesia Kedua dengan cita-cita sejarah yang struktural dan analitik. Buku yang pertama dibuat setelah seminar itu adalah buku yang berjudul Sejarah Nasional Indonesia yang berjumlah enam jilid, yang tidak saja menekankan kronologi, proses, tetapi juga sejarah yang sinkronik-struktural.

Tuntutan akan ketepatan teknik dalam usaha mendapatkan fakta sejarah, secermat mungkin dan mengadakan rekontruksi sebaik mungkin-serta menerangkannya setepat mungkin mendorong tumbuhnya historiografi modern. Di samping mempergunakan metode yang kritis, historiografi modern juga menerapkan penghalusan teknik penelitian dan memakai Ilmu-Ilmu bantu baru yang bermunculan. Oleh karena Itu, secara bertahap berbagai Ilmu bantu dalam pengerjaan sejarah berkembang mulai dari penguasaan bahasa serta keterampilan membaca tulisan kuno (epigrafi) sampai dengan numismatic yang mempelajari mata uang kuno permasalahan arsip-arsip. Ciri-ciri historiografi modem antara lain.

a.    Sudut pandang Indonesiasentris.
b.    Bersifat kritis analistis dengan menggunakan pendekatan multidimensional.
c.    Menonjolkan peran bangsa Indonesia.
d.    Mengungkapkan micro history sehingga menghasilkan sejarah populis bukan elistis.

Dengan demikian, bukan saja ketetapan pengujian bahan sutnber harus selalu diperhalus, metode-metode baru dalam pengumpulan sumber (heuristik) harus pula dikembangkan. Misalnya kalau bahan-bahan tertulis mulai habis, sedangkan usaha untuk mendapatkan rekontruksi sejarah yang relatif utuh belum tercapai, teknik wawancara terhadap para pelaku atau saksi sejarah dan sistem klasifikasi dalam penyimpanannya perlu pula selalu disempurnakan, sedangkan bila untuk dipertimbangkan sebagai bahan penulisan sejarah maka diperlukan metodologi dan alat analisa disertai dengan ilmu bantu sejarah yang memadai.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top