Pengertian dan Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial

Pengertian dan Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial

Diferensiasi sosial merupakan klasifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang diciptakan secara sosial. Setiap kelompok yang tercakup dalam diferensiasi disebut kelompok sosial. Banyak kelompok sosial yang ada di masyarakat membentuk kesatuan struktur sosial masyarakat.

a.    Pengertian Diferensiasi Sosial

Diferensiasi berasal dari kata difference yang berarti perbedaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diferensiasi berarlLgroses, cara, pembuatan membedakan. Adapun dalam istilah sosiologi, diferensiasi sosial adalah pembedaan anggota masyarakat berdasarkan golongan-golongan secara horizontal tanpa memandang perbedaan lapisan. Pengklasifikasian golongan tersebut tidak berjenjang, tidak bertingkat atau sejajar.

Dengan (lemikian, dalam diferensiasi sosial tidak dikenal adanya tingkatan atau pelapisan, seperti pembagian kelas atas, menengah, dan bawah. Pembedaan yang ada dalam diferensiasi Sosial didasarkan atas latar belakang sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak sama dalam masyarakat, klan, etnis, dan agama. Kesemuanya itu disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berdasarkan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.

b.    Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial

Pengelompokan masyarakat berdasarkan perbedaannya dalam diferensiasi sosial sangat beragam. Oleh karena itu, para ahli sosial mengklasifikasikannya menjadi beberapa macam bentuk diferensiasi guna memudahkan dalam mempelajarinya. Bentuk-bentuk tersebut, antara lain diferensiasi ras, agama, etnis, profesi, jenis kelamin, dan asal daerah.

1) Diferensiasi Ras
Ras dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras berarti mengelompokkan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya bukan budayanya. Menurut Horton dan Hunt, ras adalah suatu kelompok manusia yang agak berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya dalam segi ciri fisik bawaan (misal warna kulit, bentuk muka, warna rambut, warna mata, dan bentuk hidung. Ilmu yang mempelajari ras-ras manusia dinamakan somatologi.

Dalam berinteraksi kita juga dipengaruhi oleh perbedaan ras. Kita selalu mengidentifikasikan diri kita atau orang lain sebagai bagian dari kelompok ras tertentu, terutama berdasarkan kesamaan warna kulit. Oleh karena itu, pemahaman mengenai klasifikasi ras diperlukan dalam rangka memahami perilaku manusia di masyarakat. Kenyataannya, perbedaan ras telah menyebabkan terjadinya prasangka dan kesalahpahaman rasial di masyarakat.

Contohnya, hubungan antara orang keturunan Cina dengan orang pribumi di Indonesia senantiasa berbeda dengan hubungan antara sesama orang keturunan Cina atau sesama keturunan pribumi. Padahal sebagai sesama warga negara Indonesia semua mendapat perlakuan yang sama dimata hukum.

2) Diferensiasi Agama
Agama didefinisikan oleh Emile Durkheim sebagai suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal suci, dan bahwa kepercayaan dan praktik tersebut mempersatukan semua orang yang beriman ke dalam suatu komunitas moral yang dinamakan umat.
Di Indonesia dikenal dengan sebutan umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, serta Konghucu. Sebutan tersebut artinya menunjukkan agama yang dianut masyarakat Indonesia. Penggolongan ini semata-mata hanya secara horizontal dan tanpa maksud untuk melihat derajat tingkatan atau pelapisan.
Dalam kehidupan sosial pun hak dan kewajiban warga masyarakat tidak dibedakan berdasarkan agama yang dianut. Dengan kata lain, diferensiasi sosial berdasarkan agama ini untuk menciptakan integrasi, bukan menciptakan disintegrasi bangsa.

3) Diferensiasi Etnis (Suku Bangsa)
Istilah etnis berasal dari bahasa Yunani, ethnikos yang berarti memiliki satu kebangsaan atau kelompok asing. Pengelompokan etnis didasarkan pada persamaan kebudayaan. Menurut Francis, kelompok etnis merupakan komunitas yang menampilkan persamaan bahasa, adat kebiasaan, wilayah, sejarah, sikap, dan sistem politik. Jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia sendiri saat ini sulit ditentukan dikarenakan adanya perbedaan pendapat dari para peneliti. Perbedaan suku bangsa ini bukan hanya didasarkan pada jumlah anggota dalam satu lingkup geografis tertentu, tetapi juga pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki. Faktor-faktor yang membuat semakin beragamnya kelompok etnik adalah migrasi, perang, perbudakan, perubahan batas wilayah politik, dan bentuk perpindahan lainnya. Kelompok-kelompok etnis memiliki kebudayaan tersendiri. Kebudayaan itu berasal dari warisan nenek moyang mereka atau hasil asimilasi antara kebudayaan nenek moyangnya dengan kebudayaan lain.

4) Diferensiasi Klan (Clan)
Klan adalah kesatuan sosial berdasarkan kesamaan hubungan darah (genealogi), religlo-magis (kesatuan kepercayaan), dan tradisi (adat) yang terdapat dalam masyarakat. Sementara menurut Koentjaraningrat, klan merupakan suatu kelompok kekerabatan yang terdiri atas semua keturunan dari seorang nenek moyang yang diperhitungkan melalui garis keturunan sejenis, yaitu keturunan warga laki-laki atau perempuan. Menarik garis keturunan dari satu pihak disebut juga dengan Unilateral, contohnya sebagai berikut.

a)    Patrilineal, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah. Contoh masyarakat Batak dengan sebutan marga, masyarakat Minahasa, Ambon, dan Flores dengan sebutan Fam.
b)    Matrilineal, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ibu. Contoh dalam masyarakat Minangkabau, seperti Koto, Chaniago, Piliang, dan Sikumbang.

5) Diferensiasi Gender
Gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin menunjuk pada kategori biologis. Gender merupakan kategori sosial dan sumbernya berasal dari nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Kornblum mengartikan perbedaan gender sebagai cara berperilaku bagi perempuan dari laki-laki yang sudah ditentukan oleh kebudayaan yang kemudian menjadi bagian dari kepribadiannya. Menurut Giddens, perbedaan gender adalah perbedaan psikologis, sosial, dan budaya antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan definisi-definisi tersebut diketahui bahwa diferensiasi gender adalah perbedaan psikologis, sosial, budaya serta pembedaan peran-peran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat.

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan merupakan perbedaan horizontal. Pada dasarnya kedudukan laki-laki dan perempuan sama karena mempunyai kesempatan, status, dan peran sosial yang sama. Peran gender sendiri merupakan pola-pola sikap dan tingkah laku yang diharapkan oleh masyarakat, dibuat oleh masyarakat dan diteruskan secara turun-temurun oleh agen sosialisasi, seperti keluarga, teman sepermainan, sekolah, dan media massa. Misalnya kalau diperhatikan, bayi yang baru lahir berjenis kelamin laki-laki biasanya diberikan perlengkapan berwarna biru, mobil mainan, senjata mainan, dan semua yang bersifat maskulin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top