Memahami Prosedur Cara Membaca Cerpen

Memahami Prosedur Cara Membaca Cerpen

Prosedur kompleks dapat pula dijumpai pada teks sastra. Sastra adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman manusia melalui bahasa yang mengesankan. Dalam sastra terkandung ide, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang khas manusiawi, serta diungkapkan dengan bahasa yang indah.

Karya sastra dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain puisi, cerpen, dan drama. Ketiga jenis karya sastra tersebut memiliki karakteristik masing-masing. Perbedaan karakteristik di antara ketiga jenis karya sastra tersebut juga berdampak pada cara memahaminya. Berikut akan dijelaskan mengenai cara memahami cerpen dan puisi.

1. Memahami Prosedur Membaca Cerpen

Cerita pendek atau cerpen merupakan cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu saat, hingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari cerita tersebut. Sebuah cerita dapat disebut cerita pendek apabila memiliki ciri-ciri, antara lain panjang cerita tidak lebih dari 10.000 kata, hanya memiliki satu konflik, dan diakhiri dengan penyelesaian.

Sebagai salah satu jenis karya sastra, memahami cerpen tidak bisa dilakukan hanya sekadar membacanya secara sekilas. Keseluruh isi cerita harus dibaca sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pada dasarnya, begitulah cara menikmati cerita pendek. Seluruh bagian cerita harus dibaca secara tuntas. Selain hal tersebut, pengetahuan Anda tentang unsur-unsur pembangun cerita juga akan sangat membantu dalam memahami isi cerita.

Unsur dalam cerpen dibagi menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur unsur-unsur yang ada di dalam tubuh prosa itu sendiri. Unsur intrinsik dalam prosa meliputi tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang pengarang, dan gaya bahasa. Berikut ini uraian yang lebih rinci.

1) Tema
Tema adalah inti atau landasan utama pengembangan cerita. Tema merupakan hal yang sedang diungkapkan oleh pengarang dalam ceritanya. Tema dapat bersumber pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya, misalnya tentang cinta, kesetiaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan, dan sebagainya.

2) Alur/Plot
Alur adalah jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita. Dari mana pengarang memulai cerita, mengembangkan, dan mengakhirinya. Alur terdiri atas alur maju, alur mundur (flash back), alur gabungan, dan alur campuran.

a) Alur maju adalah alur yang memiliki klimaks di akhir cerita dan merupakan jalinan/rangkaian peristiwa dari masa kini ke masa lalu yang berjalan teratur dan berurutan sesuai dengan urutan waktu kejadian dari awal sampai akhir cerita. Tahapan alur maju, yaitu awal-peruwitan-kilmaks-antiklimaks-akhir.

b) Alur mundur adalah alur yang menceritakan tentang masa lampau yang memiliki klimaks di awal cerita dan merupakan jalinan/rangkaian peristiwa dari masa lalu ke masa kini yang disusun tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian dari awal sampai akhir cerita. Tahapan alur mundur, yaitu akhir-antiklimaks-kilmaks-peruwitan-awal.

c) Alur gabungan adalah alur yang merupakan gabungan dari alur maju dan alur mundur.

d) Alur campuran adalah alur yang diawali klimaks, kemudian melihat lagi masa lampau dan dilanjutkan sampai pada penyelesaian yang menceritakan banyak tokoh utama sehingga cerita yang satu belum selesai kembali ke awal untuk menceritakan tokoh yang lain. Tahapan alur campuran, yaitu klimaks-peruwitan-awal-antiklimaks-penyelesaian.

Adapun tahapan-tahapan alur secara umum sebagai berikut:
a)    pengenalan;
b)    pengungkapan masalah;
c)    menuju konflik;
d)    ketegangan;
e)    penyelesaian.

3) Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan terdiri atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung sebagai pemeran sekaligus penggerak cerita dan orang-orang yang hanya disertakan di dalam cerita. Watak tokoh, yaitu penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh cerita. Untuk menimbulkan konflik, biasanya di dalam cerita ada tokoh yang berperan pentlng dengan kepribadian yang menyenangkan dan ada tokoh yang berseberangan perilakunya dengan tokoh sentral tersebut. Tokoh utama disebut dengan tokoh protagonis dan lawannya adalah tokoh antagonis.

Cara pengarang menggambarkan para tokoh cerita adalah dengan secara langsung dljelaskan nama tokoh beserta gambaran fisik, kepribadian, lingkungan kehidupan, jalan pikiran, proses berbahasa, dan laln-lain. Dapat juga dengan cara tidak langsung, yaitu melalui percakapan/dialog, digambarkan oleh tokoh lalnnya, reaksi dari tokoh lain, pengungkapan kebiasaan tokoh, jalan pikiran, atau tindakan saat menghadapi masalah.

4) Latar/setting
Latar cerita adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. Latar merupakan sarana untuk memperkuat serta menghidupkan jalan cerita.

5) Amanat
Amanat cerita adalah pesan moral atau nasihat yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasihat disampaikan oleh pengarang dengan cara tersurat, yakni dijelaskan oleh pengarang langsung atau melalui dialog tokohnya; dan secara tersirat atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan dapat menangkap pesan setelah membaca keseluruhan isi cerita.

6) Sudut pandang pengarang
Sudut pandang pengarang atau point of view adalah posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang dalam cerita terbagai menjadi dua, terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.

a) Pengarang terlibat di dalam cerita
Pengarang terlibat di dalam cerita berarti pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita juga dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sentral, namun ia ikut menjadi tokoh, misalnya cerita tentang kehidupan orang-orang terdekat pengarang, ayah, ibu, adik, atau sahabat seperti roman sastra berjudul 'Ayahku' yang dikarang oleh Hamka.

b)    Pengarang berada di luar cerita, terdiri atas pengarang serbatahu
la yang menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, dan mengatur semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. la tidak mengetahui secara batin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan.

7) Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah bagaimana pengarang menguraikan ceritanya. Ada yang menggunakan bahasa yang lugas dan ada yang bercerita dengan bahasa pergaulan atau bahasa sehari-hari. Ada juga yang bercerita dengan gaya satire atau sindiran halus, menggunakan simbol-simbol, dan sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu menimbulkan daya tarik dan penciptaan suasana yang tepat bagi pengembangan tema serta alur cerita. Setiap pengarang besar biasanya sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya.

b. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun di luar prosa Termasuk unsur ekstrinsik dalam karya sastra, sebagai berikut.

1)    Riwayat pribadi pengarang.
2)    Kehidupan masyarakat tempat karya sastra itu dilahirkan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top