Teori Terbentuknya Planet Bumi

Teori Terbentuknya Planet Bumi

Bumi merupakan salah satu planet dari sistem tatasurya yang terdapat dalam suatu galaksi benama Galaksi Bima Sakti (The Milky Ways atau Kabut Putih). Selain planet-planet yang terdapat dalam tata surya, juga terdapat benda-benda angkasa lain, dan sekitar 200 milyar bintang yang ada di datam Galaksi Bima Sakti. Lebih jauh lagi berdasarkan penelitian, Bima Sakti bukanlah satu-satunya galaksi, tetapi terdapat ratusan, jutaan, bahkan milyaran galaksi pengisi jagat raya ini. Sungguh Maha Tinggi Tuhan yang telah menciptakan bumi dan jagat raya dengan segala isinya.

Bumi yang seperti sekarang ini baru terjadi setelah berjuta-juta tahun. Sesudah Bumi bertambah dingin, berubahlah gas tersebut dan lama-kelamaan bagian luarnya makin padat, sehingga pada permukaan Bumi dapat ditempati manusia, tumbuh-tumbuhan, serta makhluk hidup liainnya.

Sejak zaman dahulu sudah banyak teori-teori tentang terbentuknya Bumi dan tata surya. Beberapa teori tentang proses terjadinya Bumi dan tata surya sebagai berikut.

1.    Teori Nebula (Kant dan Laplace)
Immanuel Kant (1749-1827) seorang ahli filsafat Jerman membuat suatu hipotesis tentang terjadinya tata surya. Dikatakan bahwa di jagat raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan. Bagian tengah kabut itu lama-kelamaan berubah menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi Matahari dan bagian kabut sekitamya menjadi planet-planet dan satelitnya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tanpa ada komunikasi, seorang ahli fisika Prancis bernama Pierre Simon de Laplace mengemukakan teori yang hampir sama. Dikatakan bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin, karena pilinannya itu berupa gumpalan kabut yang berbentuk bulat seperti bola yang besar. Makin mengecil bola itu, makin cepatlah pilinnya. Akibatnya, bentuk bola itu merapat pada kutubnya dan melebar di bagian ekuatomya, bahkan sebagian massa gas di ekuator menjauh dari gumpalan intinya, membentuk gelang-gelang. Lama-kelamaan gelang-gelang itu berubah menjadi gumpalan padat. Itulah yang disebut planet-planet dan satelitnya, sedangkan bagian inti kabut itu tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sebagai Matahari sekarang ini.

Kedua teori itu mempunyai persamaan tentang material asalnya, yaitu kabut. Itulah sebab, keduanya dijadikan satu nama, yaitu Teori Nebula atau Teori Kabut (Nebular Hypotheses), bahkan lebih dikenal Teori Kant dan Laplace.

2.    Teori Planetesimal (Moulton dan Chamberlin)
Teori ini dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin (1843-1928) seorang ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872-1952) seorang ahli astronomi, keduanya ilmuwan Amerika. Teorinya dikenal sebagai Teori Planetesimal (berarti planet kecil) karena planet terbentuk dari benda padat yang memang telah ada.

Menurut teori ini, Matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa, ada sebuah bintang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan Matahari maupun bintang itu. Sebagian dari massa Matahari itu tertarik ke arah bintang.

Pada waktu bintang itu menjauh, menurut Moulton dan Chamberlin, sebagian dan massa Matahari itu jatuh kembali ke permukaan Matahari dan sebagian lagi terhambur ke ruang angkasa sekitar Matahari. Hal inilah yang dinamakan planetesimal yang kemudian menjadi planet-planet dan beredar pada orbitnya.

3.    Teori Pasang Surut (Jeans dan Jeffreys)
Teori Planetesimal hampir sama dengan Teori Pasang Surut yang dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891), keduanya ilmuwan Inggris Jeans dan Jeffrey melukiskan bahwa setelah bintang itu berlalu, massa Matahari yang lepas itu membentuk bentukan cerutu yang menjorok ke arah bintang. Kemudian, akibat bintang yang makin menjauh, massa cerutu itu terputus-putus dan membentuk gumpalan gas di sekitar Matahari. Gumpalan-gumpalan itulah yang kemudian membeku menjadi planet-planet. Teori ini menjelaskan, apa sebab planet-planet di bagian tengah, seperti Jupiter. Saturnus, Uranus, dan Neptunus merupakan planet raksasa, sedangkan di bagian ujungnya, Merkurius, dan Venus di dekat Matahari merupakan planet yang lebih kecil.

4.    Teori Awan Debu (Von Welzsaeckar)
Pada tahun 1940 seorang ahli astronomi Jerman bernama Cart Von Weizsaecker mengembangkan suatu teori yang dikenal dengan Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory) Teori ini kemudian disempurnakan lagi oleh ahli astronomi lain, yaitu Gerard P Kulper (1950) dan Subrahmanyan Chandra Sekhar.

Pada dasamya, teori ini mengemukakan bahwa tata surya itu terbentuk dan gumpalan awan gas dan debu. Dewasa ini, di alam aemesta bertebaran gumpalan awan seperti itu. Lebih dari 5.000 juta tahun yang lalu, salah satu gumpalan awan itu mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan tersebut, membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas itu memipih menyerupai bentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan lebih tipis di bagian tepinya. Bagian tengah cakram gas itu berpilin lebih lambat daripada bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram kemudian saling menekan, sehingga menimbulkan panas dan menjadi pijar. Bagian inilah yang kemudian menjadi Matahari. Bagian yang lebih luar berputar sangat cepat, sehingga terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil. Gumpalan kecil ini juga berpilin. Bagian inilah yang kemudian membeku dan menjadi planet-planet serta satelit-satelitnya. Bahan planet itu dinamakan juga proto planet, sehingga teori ini dinamakan juga Teori Proto Planet.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top