Sistem Pemerintahan di Negara Iran

Sistem Pemerintahan di Negara Iran

Dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran sejak kejatuhan Dinasti Syah Iran, sebagai kepala pemerintahan dipegang oleh seorang presiden, yang walaupun dipilih oleh rakyat tetapi diangkat, dilantik, dan diberhentikan oleh Faqih atau Dewan Faqih (penentuan seseorang untuk menjadi Faqih dan Ayatullah adalah berdasarkan kemampuan yang bersangkutan mengenal Al-Qur’an).

Ketua kabinet (dewan menteri-menteri) dipegang oleh perdana menteri (PM) yang dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh presiden, setelah mendapat persetujuan dari badan iegislatif (Dewan Pertimbangan Nasional Iran). Kabinet bertanggung jawab kepada Dewan Pertimbangan Nasional Iran.

Badan Iegislatif ini memang bertugas mengawasi pihak eksekutif, selain tugasnya membuat undang-undang, tetapi badan Iegislatif ini tidak bebas begitu saja membuat undang-undang karena harus disesuaikan dengan Al Qur’an dan Al Hadits (Mazhab Syiah).

Di samping itu dikenal pula Dewan Pelindung Konstitusi, dewan ini disebut juga Dewan Perwalian atau The Guardian Council of Constitution (Syura ne Gahdan) yang bertugas mengawasi agar undang-undang yang dibuat oleh Dewan Pertimbangan Nasional Iran tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan konstitusi Iran.

Anggota-anggota Dewan Perwalian terdiri atas para pakar sebagai berikut.
a.    Para anggota yang diambil dari ahli hukum Islam yang terkenal soleh dalam beribadat menjalankan syariah Islam dan ditunjuk langsung oleh Dewan Keimanan.

b.    Para anggota yang diambil dari ahli hukum umum (lawyers) dari berbagai cabang llmu hukum, tetapi bagaimanapun juga dipilih dari hakim-hakim Islam. Mereka juga harus mendapat izin dari High Council of the Judiciary (Mahkamah Agung Iran) beserta pengesahan dari Dewan Pertimbangan Nasional Iran.

Walaupun penulis-penulis Barat menggambarkan para tokoh Iran ini sebagai oraog-orang bersurban yang tradisional seakan masih hidup di masa Nabi Muhammad SAW pada abad ketujuh. nyatanya orang-orang bersurban dan berjenggot itu adalah para ulama, yang tingkat pengetahuannya melebihi para ilmuwan Barat serta menguasai berbagai bahasa asing yaitu Inggris, Prancis, Arab, Urdu, dan Jerman di samping bahasa Persia mereka sendiri. Mereka menguasai Al Qur’an, bahkan menerjemahkan dan menafsirkan dalam gaya aktual yang transendental. Ini sudah barang tentu sulit diterima mereka yang berpaham keduniawian sekuler.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top