Pengertian dan Ciri Puisi Kontemporer

Pengertian dan Ciri Puisi Kontemporer

Kata kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman. Puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi kontemporer corak dan gayanya biasanya keluar dari ikatan konvensional puisi itu sendiri.

Puisi kontemporer kadang-kadang memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata kasar, ejekan, dan Iain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambang intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggap tidak begitu penting lagi. Tokoh-tokoh puisi kontemporer di Indonesia saat ini sebagai berikut:

1.    Sutardji Calzoum Bachri dengan tiga kumpulan puisinya O, Amuk, dan O Amuk Kapak;
2.    Ibrahim Sattah dengan kumpulan puisinya Hai ti;
3.    Hamid Jabbar dengan kumpulan puisinya Wajah Kita.

Puisi kontemporer dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu puisi mantra, puisi mbeling, dan puisi konkret.

1. Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer. Ciri-ciri mantra sebagai berikut.

a.    Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami, melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu.
b.    Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri.
c.    Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak pada perintah.

2. Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertamakali dalam majalah Aktuilyang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya, yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling". Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main. Ciri-ciri puisi mbeling sebagai berikut:

a.    mengiitamakan unsur kelakar,
b.    pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata, dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).

3. Puisi konkret adalah puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk gratis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu. Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyaimya.

Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memerhatikan beberapa unsur puisi kontemporer sebagai berikut.
1.    Unsur bunyi; meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
2.    Tipografi; meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar (pola) tertentu.
3.    Enjambemen; meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya.
4.    Kelakar (parodi); meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan (kontemplatif).

Adapun ciri-ciri puisi kontemporer sebagai berikut:

1.    bentuknya tidak seperti puisi biasa.
2.    pada umumnya bertemakan kritikan.
3.    maknanya sangat sulit ditangkap.
4.    sering sekali mempermainkan kata.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top